SABAR KUNCI UTAMA MENUNTUT ILMU

image

SABAR KUNCI UTAMA

HUMED SMAIT IF. Mungkid. Selasa 24 Mei 2016 ini, Ihsanul Fikri mendapatkan kunjungan dari salah satu Dosen Universitas Al Azhar, yaitu Syekh Nabil.

Dalam kunjungannya, beliau berkesempatan memberikan taujih dalam bahasa Arab di hadapan Siswa SMPIT dan SMAIT Ihsanul Fikri. Beliau menyampaikan tentang kunci utama dalam menuntut ilmu, yaitu Sabar melalui hikmah yang bisa diambil dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.

image

Selain itu, beliau memaparkan tugas utama para santri Ihsanul fikri yaitu menuntut Ilmu, menghafal quran dan memuliakan para ulama termasuk ustadz ustadzah Ihsanul Fikri.

Beliau berharap agar para santri senantiasa berfikiran lurus sesuai dengan makna dari Ihsanul Fikri yaitu berfikiran yang lurus.

Dengan antusias para siswa/santri menyimak tausiyah beliau.()

(fu)

INFO AKHIR TAHUN AJARAN BARU

PENGUMUMAN LIBUR LEBARAN DAN KEDATANGAN SISWA BARU TAHUN AJARAN 2016/2017

18 Juni 2016 –> Penerimaan Rapor dan Kepulangan

20 Juni sd 22 Juli 2016 –> Libur Kenaikan Kelas, Ramadhan dan Idul Fitri untuk siswa yang naik kelas XI dan XII.

16 Juli 2016 –> Khutbah Ta’aruf Siswa/i Baru SMAIT IF. Siswa/i Baru wajib hadir sebelum pukul 7.30 pagi.

17 sd 21 Juli 2016 –> Masa Orientasi Siswa Baru 2016/2017

22 Juli 2016 –> Siswa kelas XI dan XII kembali ke Asrama.

25 Juli 2016 –> Awal Tahun Ajaran Baru.

SEMANGAAATTTTT 🙂

Semoga Bermanfaat

(FIKR) REMAJA-REMAJA YANG BERWIBAWA

image

Sejarah telah mengajari kita untuk menjadi pahlawan, tanpa menunggu tua. Remaja, bukan halangan menggapai wibawa. Siapa tak kenal Al-Fatih? Menjadi sultan pada usia belasan tahun, lalu mempersembahkan Konstantinopel ke dalam pangkuan Islam. Sekaligus, menjawab teka-teki Sabda Nabi saw dengan meyematkan namanya sebagai sebaik-baik panglima. Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Panglima yang menaklukkannya adalah sebaik-baik panglima, dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan. (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335).

Siapa tak mengerti Imam Syafii yang di usia 15 tahun sudah layak menjadi mufti? Sampai-sampai Imam Ahmad bin Hambal berkata, Aku belum pernah menjumpai seseorang yang lebih pandai dari pemuda ini (Imam Syafii) dalam memahami kitab Allah, Al-Quran.  (Syaikh Ahmad Farid, 2007:363)

Satu setengah abad sebelum Imam Syafii hidup, pada akhir masa kenabian, Usamah bin Zaid memimpin pasukan kaum muslimin. Usianya baru 18-an tahun, sedang prajuritnya banyak yang lebih tua darinya. Bahkan, lima tahun sebelumnya, dalam peristiwa haditsul ifki (berita bohong), fitnah yang menerpa kesucian Aisyah ra, Usamah bin Zaid termasuk segelintir orang yang diajak musyawarah oleh Nabi Muhammad saw. Bersama Ali bin Abu Thalib, ia pun membela Aisyah ra melalui perkataannya, Wahai Rasulullah, mereka itu adalah istri-istrimu, dan kami hanya mengetahui kebaikan yang ada pada mereka. (Ad-Duwaisy, 2009:122)

Masa awal-awal Islam, remaja berwibawa menebar dimana-mana. Ada Zaid bin Tsabit, juru tulis Nabi. Zaid diperintah Nabi mempelajari kitab kaum Yahudi, padahal usianya belum genap dua puluh tahun. Ia juga dipercaya membacakan surat-surat orang Yahudi pada Rasulullah, dan menulis balasannya. Zaid bin Tsabit masih dianggap kecil dalam perang Badar. Ada pula Zaid bin Arqam serta Zaid bin Jariyah, yang keduanya dianggap kecil dalam perang Uhud.  Demikian pula Muadz bin Al-Harits bin Rifaah serta Muadz bin Amru bin Al-Jamuh, yang keduanya ikut serta perang Badar saat masih kecil. Pada fase Makkiyah, kita tidak bisa melewatkan para remaja berwibawa dari deretan para sahabat. Abdullah bin Abu Bakar, Mushab bin Umair, Saad bin Abi Waqash, dan Arqam bin Abil-Arqam. Dan tentunya, Ali bin Abi Thalib.

Antrean panjang nama-nama itu, adalah bukti bahwa remaja sangat bisa berwibawa. Tapi, mengapa fenomena itu kini sangat langka? Kaum tua yang mabuk jabatan, salah satu jawabnya. Hingga egoisme itu menyebabkan remaja tak pernah diberi kepercayaan untuk berperan. Sekaligus menutup pintu sukses remaja. Sudah jamak kita mendengar masjid yang tidak ramah anak: Dilarang membawa anak kecil ke masjid! Anak dan remaja tidak diberikan ruang untuk menjadi muadzin, juga menjadi bagian takmir. Solusinya, tentu melibatkan anak sejak dini dalam agenda keummatan. Bagaimana mereka akan bisa, jika mereka tidak biasa?

Selain itu, karena kualitas dan kapasitas adalah indikator penentu kesuksesan, maka pendidikan bernuansa ilahiyah harus melekat pada anak sejak bayi. Sejak dini mestinya, mereka dekat dengan Al-Quran dan hidup dalam nuansa ubudiyah. Idealisme menaunginya, jauh dari didikan materialisme keduniawian. Sebutlah Imam Syafii yang menghafal Quran sejak kecil, dan menjadi hafidz sejak belia. Atau Al-Fatih misalnya, ia terbiasa sholat wajib, rowatib, dan tahajud sejak baligh hingga kematiannya.()

oleh: Anwar Rosyadi, S. Sos.
Pengajar Sosiologi SMAIT IF

PELANTIKAN PLETON INTI 2016/2017

image

SMAIT IFBS. Mungkid. Senin, 2 Mei 2016, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, SMAIT IF melantik pasukan baru Pleton Inti SMAIT IF dalam upacara bendera yang dihadiri  oleh siswa dan guru putra.

image

Acara dilaksanakan di lapangan upacara yang terletak di antara asrama Darul Hijrah dan Darul Ma’arif. Harapannya, pelantikan tersebut sekaligus sebagai penanda akan pentingnya keberlangsungan pendidikan yang baik dan bermutu di Indonesia. ()

Fu