Bentuk Pendidikan Karakter Siswa, Ihsanul Fikri Boarding School Mungkid Gelar Program Menyala di Sepertiga Malam Terakhir, Seperti Ini Bentuknya

RADARMAGELANG.ID, Mungkid–Budaya qiyamul lail merupakan budaya yang tidak asing kita dapati di Pondok Pesantren pada umumnya.

Namun Ponpes Ihsanul Fikri Mungkid atau Ihsanul Fikri Boarding School Mungkid yang meliputi SMPIT-SMAIT-SMKIT dan STIT Ihsanul FIkri Mungkid meramu kegiatan Qiyamul Lail ini dengan cara berbeda.

“Kami meluncurkan program Menyala di Sepertiga Malam Terakhir sebagai salah satu ujung tombak pendidikan karakter siswa,” kata Ustadz Umar Fadhlulloh Lc dari bidang Pembinaan Yayasan Tarbiyatul Mukin yang menaungi Ihsanul Fikri Boarding School Mungkid.

Dijelaskan, dalam program tersebut, salat malam yang biasanya dipusatkan di masjid, kini dipecah di beberapa tempat sesuai jenjang kelas masing-masing.

Antara lain di galaman asrama kelas 7, halaman asrama kelas 10, lobi asrama kelas 8, masjid Mujahidat 1, masjid Mujahidat 2, dan masjid Mujahidin. 

Program pemisahan ini dimulai sejak 24 Mei 2024 dini hari lalu.

Sejak itu anak-anak salat malam tidak jadi satu tempat.

Menurut Ustadz Umar, dengan pemecahan ini memudahkan dalam memobilisasi anak dan pengawasan lebih intensif, serta kesempatan untuk memunculkan bakat kepemimpinan anak dengan diberikan amanah menjadi imam salat malam.

“Dengan kita pisahkan sesuai jenjang ini, kita lebih mudah memantau, dan memastikan anak untuk salat malam bersama di sepertiga malam terakhir setiap harinya. Anak juga diberikan kesempatan untuk menjadi imam, jadi tidak terfokus pada ustadz-ustadznya saja,” tutur Ustadz Umar.

Dikatakan, dengan budaya rutin salat malam ini, akan melembutkan hati anak-anak untuk menerima pelajaran, nasehat, dan hal baik lain yang bisa membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang Islami, juga mendorong prestasi anak.

“Jika anak rutin bangun untuk salat malam serta mendengarkan ayat suci Alquran, saya yakin dan optimis hati mereka akan menjadi lembut, sehingga mampu mengambil nilai pelajaran dan nasehat yang para guru serta musyrif berikan. Itu merupakan waktu yang mustajab. Anak bisa berdoa untuk orang tua mereka, masa depan mereka, dan prestasi mereka,” paparnya.

Ke depan, program ini akan melibatkan seluruh komponen, termasuk wali murid/santri yang akan dipersilakan mengikuti salat malam sesuai waktu yang akan dijadwalkan untuk mereka.

Alhamdulillah seluruh komponen lembaga terlibat,  Pembina, Pengurus Yayasan, Guru, hingga karyawan.  Selanjutnya Insya’Allah akan kami jadwalkan untuk wali santri/murid untuk bisa hadir ikut kegiatan ini,” katanya.

Salah satu santri M Rafly Andika mengaku, program ini membuat manajemen waktunya lebih baik.

Karena bisa memulai kegiatan setiap harinya lebih awal, serta bisa menggunakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa.

Alhamdulillah, senang. Saya jadi bisa memulai sesuatu lebih gasik. Bisa berdoa juga untuk  masa depan. Semoga bisa diterima di kampus favorit syukur dengan beasiswa dan lewat SNBP kayak kakak-kakak saya kemarin,“ ujar santri asal Kalimantan ini.

Seperti diketahui, pada tahun ini sebanyak 54 siswa SMAIT Ihsanul Fikri diterima di berbagai PTN favorit melalui jalur SNBP, serta 4 siswa diterima melalui SPAN PTKIN. (*/aro)